Sabtu, 26 Desember 2015

Hakikat Pendidikan yang Sesuai dengan Tahap Perkembangan Anak ( DAP/ Developmentally Appropriate Practice )






Konsep DAP atau Developmentally Appropriate Practice dapat kita artikan dengan pendidikan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. Pada awalnya konsep DAP ini muncul di Amerika pada tahun 1980-an, sebagai bentuk perbaikan dari pendidikan pada waktu itu yang dianggap tidak sesuai dengan tahapan perkembangan anak, terutama untuk anak di bawah 8 tahun. Pada waktu itu kurikulum yang ada dianggap telah gagal menghasilkan anak yang dapat berpikir kritis dan dapat menyelesaikan berbagai permasalahan dalam kehidupannya. Oleh karena itu para ahli yang tergabung dalam organisasi NAEYC (National Association for The Education of Young Childrend) dipelopori oleh Bredekamp membuat petisi untuk melakukan reformasi pendidikan melalui konsep DAP tersebut.
A.  Pengertian DAP
Konsep DAP atau pendidikan yang sesuai dengan perkembangan anak berpijak pada tiga dimensi utama, yaitu sebagai berikut (Bredekamp, 1987) :
1.     Sesuai dengan Usia
Penelitian tentang perkembangan anak menunjukkan adanya urutan tahapan perkembangan dan pertumbuhan yang bersifat umum dan dapat diramalkan. Oleh karena itu, pendidik perlu mengetahui tiap tahapan perkembangan anak ini agar dapat memberikan kegiatan, materi dan pengalaman belajar yang menarik, aman dan mendidik bagi anak.
2.    Sesuai dengan Individu Anak yang Unik
Setiap anak memiliki keunikan tersendiri, baik dalam pola kepribadian, bakat, minat, pengalaman, gaya belajar atau latar belakang keluarga. Oleh karena itu, pendidik perlu memperhatikan keunikan tiap anak tersebut saat berinteraksi dengan mereka.
3.    Sesuai menurut lingkungan Sosial Budaya
Latar belakang sosial budaya anakyang beragam perlu diperhatikan oleh pendidik karena anak perlu di persiapkan menjadi individu yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan kehidupan sosialnya.
            Sementara itu menurut Kostelnik, Soderman, dan Whiren (1993, dalam Arthur et. Al, 1996), DAP terdiri dari tiga prinsip utama, yaitu sebagai berikut :
1.     Memperhitungkan bagaimana anak belajar dan berkembang, dan menggunakan pengetahuan  tentang proses belajar dan perkembangan anak tersebut sebagai dasar untuk menentukan materi kurikulum dan strategi pengembangannya.
2.    Mempertimbangkan keunikan dari tiap anak dan memperlakukan tiap anak sebagai individu yang memiliki ciri khas dan perbedaan.
3.    Menunjukkan kepedulian yang tinggi pada perbedaan kapasitas belajar setiap anak.

B.  Landasan DAP
Munculnya konsep DAP sangat sesuai dengan berbagai teori maupun hasil riset yang telah dikembangkan oleh para ahli. Beberapa teori tentang pendidikan anak yang mendasari konsep DAP, antara lain teori Piaget tentang perkembangan kognitif, teori Erik Erikson tentang perkembangan emosi, teori Vygotsky tentang sosio-kultural, teori Gardner tentang kecerdasan majemuk, teori Kohlberg dan Thomas Lickona tentang perkembangan moral, dan teori Bronfenbrenner tentang ekologi dan kontekstual.
1.     Teori Thomas Lickona tentang Perkembangan Moral
Lickona membagi tahapan perkembangan moral pada manusia menjadi empat tahapan, yaitu sebagai berikut :
a.     Fase berpikir egosentris (self-oriented morality), usia 1 sampai 4/5 tahun.
b.    Fase patuh tanpa syarat (authority-oriented morality), usia 4/5 sampai 6 tahun.
c.     Fase balas-membalas (exchange stage), usia 6,5 tahun sampai 8 tahun.
d.    Fase memenuhi harapan lingkungan (peer-oriented morality), usia 8 sampai 13/14 tahun.
Anak pada fase egosentris biasanya menunjukkan berbagai gejala egosentris seperti sulit berbagi mainan, tidak mau menunggu antrian, cenderung tidak mau kalah saat berbicara, dan sebagainya. Menurut Lickona anak pada usia ini juga cenderung susah diatur, senang melanggar peraturan, suka pamer, memaksakan keinginan, dan memanipulasi atau berbohong. Meskipun demikian, anak pada fase ini sudah dapat diperkenalkan sopan santun dan kriteria baik buruk, tentunya dengan penuh kesabaran dari pendidik.
Salah satu cara yang cukup efektif meredam egosentris anak adalah dengan menanamkan rasa empati. Hal ini dapat dilakukan dengan mengajak anak berdialog, dan melalui cerita yang yang didalamnya ada sisipan perilaku yang diharapkan.
2.    Teori Bronfenbrenner tentang Ekologi dan Kontekstual
Teori Bronfenbrenner mengemukakan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh empat hal, yaitu :
a.     Konteks Mikrosistem, yang terdiri atas keluarga, sekolah, dan teman-temannya.
b.    Konteks Mesosistem, yaitu hubungan antara keluarga dengan sekolah, sekolah dengan sekelompok anak sebaya atau keluarga dengan sekelompok teman sebaya.
c.     Konteks Ekosistem, yaitu hal-hal yang ada disekitar anak yang dapat mempengaruhi anak tersebut, misalnya pekerjaan orangtua, kebijakan pemerintah setempat, perceraian kedua orangtua, pengasuhan oleh kakek/ nenek, dll.
d.    Konteks Makrosistem, yaitu kondisi global di mana anakk tersebut hidup, barupa lingkungan sosial, budaya dan agama. Misalnya lingkungan budaya yang penuh dengan kekerasan, juga akan berpengaruh terhadap kekerasan orangtua terhadap anak.
Teori Bronfenbrenner ini sangat berguna untuk mengetahui faktor pelindung atau faktor penghambat dalam lingkungan sosial yang dapat mempengaruhi perkembangan anak.
Faktor penghambat perkembangan anak antara lain : kemiskinan, minimnya fasilitas bermain. Kekerasan dilingkungan, pelecehan terhadap anak, pertengkaran atau perceraian orangtua, dan sebagainya. Sedangkan faktor pelindung perkembangan anak adalah keharmonisan dalam keluarga, keterlekatan dengan orangtua, tersedianya fasilitas bermain. Lingkungan teman sebaya dan sekolah yang baik, dan sebagainya.
Setelah mengetahui faktor-faktor tersebut, pendidik diharapkan dapat mengambil langkah yang tepat untuk pencegahan terjadinya masalah anak atau untuk memecahkan masalah dalam perkembangan anak didiknya.
3.    Hasil Penelitian tentang Brain-Based learning
Salah satu hasil riset tentang otak itu dikenal dengan Brain-based learning, yaitu metode belajar yang sesuai dengan cara kerja otak. Beberapa prinsip brain based leraning yaitu :
a.     Otak memproses beberapa aktivitas dalam waktu bersamaan. Misalnya, saat menari sambil bernyanyi maka tangan, dan kaki dapat digunakan untuk bergerak sesuai dengan irama, dan mulut untuk bernyanyi.
b.    Otak memproses informasi secara keseluruhan dan secara bagian per bagian dalam waktu bersamaan.
c.     Proses belajar melibatkan seluruh aspek fisiologis manusia, tidak aspek tertentu saja.
d.    Otak selalu mencari makna atau arti informasi yang diterimanya secara alami, khususnya informasi yang bermakna atau berkesan.
e.     Faktor emosi mempengaruhi proses belajar
f.     Motovasi belajar akan meningkat bila diberikan sesuatu menantang, dan akan terhambat jika diberikan ancaman.
g.     Sesorang akan lebih mudah mengerti dengan diberikan fakta secara alami atau melalui ingatan spasial (keruangan), dari pada sekedar diberikan penjelasan lisan.
Prinsip-prinsip brain-based learning tersebut mendasari perubahan metode belajar yang sesuai dengan konsep DAP, yaitu sebagai berikut (Megawangi, et. Al, 2004).
a.     Mencipkatan lingkungan yang dapat membuat anak asyik belajar, yaitu lingkungan yang sedapat mungkin melibatkan seluruh aspek perkembangan anak.
b.    Menggunakan kurikulum yang dapat menumbuhkan minat anak terhadap materi belajar secara kontekstual sehingga anak tidak hanya menghafal, tetapi benar-benar dapat memahami makna dari hal-hal yang dipelajarinya.
c.     mengupayakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan, bebas dari tekanan dan ancaman, namun tetap memberikan tantangan bagi anak untuk terus mengembangkan rasa ingin tahunya.
d.    Menyampaikan materi belajar dengan melibatkan pengalaman konkret, terutama malalui pemecahan masalah yang tingkat kesulitannya disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak.

C.  Prinsip-prinsip Pelaksanaan DAP
1.  Perencanaan Kurikulum
Pada perencanaan kurikulum sesuai DAP, perlu diperhatikan beberapa hal berikut (Bredekamp n Coople,1997).
a.     Kurikulum DAP harus mencakup semua aspek perkembangan anak (fisik, emosi, sosial, spiritual, dan kognitif) melalui pendekatan yang terpadu.
b.    Perencanaan kurikulum yang tepat harus didasarkan pada pengamatan pendidik dan catatan yang lengkap tentang minat dan tingkat perkembangan setiap anak.
c.     Perencanaan kurikulum harus diarahkan pada pembelajaran sebagai proses yang interaktif.
d.    Kegiatan dan materi pengembangan sebaiknya konkret, nyata, dan relevan dengan kehidupan anak.
e.     Program pengembangan anak usia dini perlu menyediakan layanan dengan cakupan yang lebih luas dari berbagai tingkat minat dan kemampuan anak pada usia kronologis tertentu.
f.     Pendidik perlu mengembangkan berbagai variasi kegiatan dan materi pengembangan, dan mengupayakan kegiatan dengan tingkat kesulitan, kompleksitas dan tantangan yang lebih tinggi agar anak terlibat aktif, dan dapat mengembangkan pemahaman dan keahliannya.

2.  Evaluasi Perkembangan Anak
Evaluasi perkembangan dan belajar anak secara individu sangat penting bagi perencanaan dan implementasi DAP. Untuk itu evaluasi harus dilakukan dengan penuh perhitungan dan kehati-hatian. Evaluasi yang tidak akurat dapat mendiskreditkan anak. Saat ini  instrumen berupa tes yang reliable dan valid untuk mengukur kemajuan perkembangan anak usia dini masih sangat jarang. Kelangkaan ini menyebabkan evaluasi untuk anak usia dini berupa tes tertentu tidak terlalu bermakna. Akan lebih baik jika evaluasi itu didasarkan dari observasi guru yang diuraikan secara deskriptif, bukan ditampilkan dalam bentuk angka/ nilai. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengevaluasi perkembangan anak adalah sebagai berikut (Bredekamp n Coople, 1997)
a.     Kebijakan yang berdampak  besar pada anak, seperti penerimaan murid baru, penempatan kelas atau jenjang yang tidak boleh dibuat berdasarkan satu jenis asesmen saja, misalnya hanya melalui tes.
b.    Asesmen perkembangan dan hasil observasi anak dapat di gunakan untuk mengidentifikasi anak yang memiliki kebutuhan khusus dan atau anak dengan resiko tertentu, dan untuk merencanakan kurikulum yang sesuai bagi mereka.
c.     Prediksi perkembangan anak yang didasarkan pada pengukuran dan norma yang telah diberlakukan.
d.    Bagi tiap anak yagn sudah memenuhi kelayakan usia pada program PAUD (TPA, KB, TK) tertentu, sebaiknya diatur penempatan anak sesuai dengan tingkat perkembangannya.
Selain petunujuk praktis pelaksanaan DAP diatas, ada beberapa kebijakan penting yang perlu diperhatikan untuk mengambangkan pendidikan yang sesuai bagi anak usia dini, yaitu sebagai berikut (Bredekamp n Coople, 1997)
a.     Tiap pendidik AUD sebaiknya memiliki pengetahuan tingkat perguruan tinggi ( Strata 1 ) dalam bidang pendidikan anak. Pendidik juga diharapkan selalu mengikuti perkembangan pengetahuan tentang perkembangan anak dan penerapannya dalam pendidikan anak usia dini.
b.    Penerapan program DAP memerlukan persiapan pengetahuan agar pendidik dapat mengembangkan program pendidikannya dengan pendekatan personal, konkret dan berpengalaman. Pengetahuan tersebut meliputi dasar-dasar teori, berbagai penelitian tentang pengembangan anak, berbagai metode yang sesuai untuk AUD, dan pengalaman lapangan.
c.     Pendidik AUD diharapkan telah memiliki pengalaman praktik mendidik anak usia tersebut. Bagi calon pendidik yang belum pernah berinteraksi dengan anak usia dini, sebelum terlibat dalam pengasuhan anak usia dini perlu diberikan pelatihan khusus yang dilengkapi dengan pengalaman praktis mendidik anak AUD dibawah pengawasan seorang ahli.
d.    Penerapan program pendidikan anak usia dini yang sesuai perkembangan perlu membatasi jumlah anak dalam kelompok dengan menyediakan jumlah pendidik yang memadai agar terjamin pelaksanaan pendidikan yang sesuai dnegan usia dan individu setiap anak.

Referensi :  Coughlin, Pamela A. 1997. Menciptakan Kelas yang Berpusat pada Anak Versi Bahasa Indonesia. Jakarta: Children Resources International



Prinsip-prinsip Perkembangan Anak Usia Dini





          Para pendidik perlu memahami dan mengetahui bagaimana  caranya berinteraksi dengan anak. Pendidik juga harus mampu menghayati karakteristik anak keunikan setiap anak yang ada dalam pengasuhannya. Pengetahuan tentang karakteristik perkembangan dan cara belajar anak memberikan kontribusi terhadap pendidik dalam menyelenggarakan pendidikan di Taman Kanak-kanak.
          Hal lain yang perlu dipahami pendidik adalah tentang prinsip-prinsip perkembangan anak. Pemahaman tentang prinsip-prinsip perkembangan anak dan karakteristik khusus dalam rentang usia tertentu yang dimiliki anak akan mampu membantu para pendidik untuk mengenal kebiasaan-kebiasaan diantara anak.
          Pemahaman guru tentang perkembangan anak adalah sebagai dasar untuk merancang kegiatan-kegiatan yang akan diberika kepada anak-anak. Pengetahuan tentang perkembangan anak membantu para pendidik merancang strategi, bahan, interaksi, dan lingkungan belajar yang aman, sehat, menarik, dan menantang anak. Prinsip-prinsip perkembangan anak tersebut, yaitu :
1.  Anak berkembang secara holistik
Terdapat hubunga yang sangat erat antara aspek perkembangan estetis, afektif, kognitif, bahasa, fisik dan sosial anak. Tidak ada satu aspek perkembangan pun yang terpisah antara satu dengan yang lainnya. Sebagai contoh seorang guru yang mengamati anak muridnya yang bermain sepak bola dengan sangat gembira dapat dikategorikan kegiatan tersebut sebagai kegiatan fisik motorik murni, akan tetapi kemampuan anak bermain sepak bola dipengaruhi oleh berbagai proses perkembangan, yang meliputi :
§  Estetis : mengapresiasi keindahan gerakan pemain lain, menyenangi irama permainan.
§  Afektif : menunjukkan ketidaksetujuan terhadap orang luar yang ikut campur tangan, menerima kritik dan keluhan pemain lain, dan mengekspresikan kegembiraan dan kemarahan.
§  Kogntifi : menentukan banyaknya pemain yang boleh ada di ruangan atau tempat tertentu, mengingat siapa yang telah mendapat kartu kuning, menganalisis bagaimana mengatur pihak lawan akan melakukan penyerangan.
§  Bahasa : menggunakan kata-kata untuk menjelaskan peraturan, merespon arahan guru sebagai pelatih.
§  Fisik : berlari, melempar, dan menendang bola.
§  Sosial : bekerja sama mengatur serangan dan menjaga daerah pertahanan.
Berdasarkan uraian diatas dapat dikemukakan bahwa aspek perkembangan yang satu mempengaruhi perkembangan yang lainnya, proses sosial membentuk proses kognitif, proses kognitif meningkatkan kemampuan sosial, proses fisik mempengaruhi bahasa dan kognisi. Dengan demikian perlu dipahami bahwa ketika kita berpikir tentang anak sebaiknya diingat bahwa mereka adalah manusia secara keseluruhan yang semua aspek perkembangannya perlu difasilitasi pendidik sehingga mencapai tingkat perkembangan yang optimal.  
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadang-kadang pendidik lebih memandang istimewa satu aspek perkembangan tertentu,  misalnya hanya menekankan keterampilan kognitif dan kurang memperhatikan aspek lainya seperti keterampilan emosi dan sosial. (Spodek,1986). Ini jelas bertentangan dengan prinsip perkembangan anak usia dini.


2.  Perkembangan terjadi dalam urutan yang teratur
Perubahan terjadi secara teratur dalam arah yang relatif dapat diprediksi. Misal, sebelum seorang anak dapat berjalan, pertama-tama anak belajar mengangkat kepalanya, kemudian duduk tegak, merangkak, berdiri dengan bantuan dan kemudian berdiri tanpa bantuan.
Implikasinya dalam pembelajaran adalah sebagai berikut :
-      Pendidik hendaknya dapat mengamati dan memahami perkembangan setiap anak secara cermat sehingga familiar dengan urutan perkembangan yang relevan dalam setiap domain.
-      Para pendidik hendaknya menggunakan pengetahuan tentang perkembangan anak untuk menentukan kebutuhan anak secara individual.
-      Guru hendaknya menggunakan pemahaman tentang perkembangan anak untuk menentukan pemahaman dan perilaku baru yang secara logis dapat meningkatkan kebermaknaannya bagi anak.
-      Guru hendaknya menolak hal-hal yang terlalu menekan anak untuk mempercepat perkembangannya, misal yang berhubungan dengan pengenalan huruf, ejaan, angka, atau menulis dengan tangan.

3.  Perkembangan anak berlangsung pada tingkat yang beragam di dalam dan diantara anak
Setiap anak berkembang sesuai dengan dirinya sendiri. Tidak ada dua anak yang sama persis, meskipun kembar identik. Perbedaan itu berkaitan dengan aspek fisik seperti warna kulit, tinggi dan berat badan, warna rambut, maupun aspek psikis seperti kecerdasan, bakat, minat, dan kebutuhan.
Perbedaan dalam perkembangan berlangsung dalam dua cara yaitu intrapersonal dan interpersonal. Variasi intrapersonal misalnya seseorang bayi mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dalam aspek fisiknya, meskipun perkembangan bahasa juga mengalami kemajuan namun relatif lebih lambat. Variasi interperonal, maksudnya anak-anak pada usia yang sama menunjukkan perkembangan yang berbeda-beda.
Implikasinya bagi pendidik adalah :
§  Guru hendaknya meolok konsep atau prinsip pendidikan yang memfokuskan pada salah satu dimensi tunggal misalnya tes IQ.
§  Guru hendaknya mengamati anak-anak untuk menemukan pola-pola tingkah laku setiap anak dalam aspek perkembangan yang bervariasi.
§  Guru hendaknya merancang jadwal kegiatan yang memberikan kesempatan kepada anak untuk melakukan kegiatan menyesuaikan diri, serta mengubah jadwal itu secara bervariasi untuk memenuhi kebutuhan anak.
§  Kegiatan kelas dirancang sedemikian rupa untuk mencapai tujuan yang beraneka ragam.
§  Guru hendaknya mengulang kegiatan lebih dari satu kali dalam setahun dengan metode yang bervariasi.
§  Para guru hendaknya mendokumentasikan catatan perkembangan anak berdasarkan hasil pengamatannya dari satu fase perkembangan ke fase perkembangan lainnya.



4.  Perkembangan baru didasarkan pada perkembangan sebelumnya
Perkembangan didasarkan pada masa lalu, sekarang dan masa datang. Kemampuan anak untuk memahami hal-hal baru didasari oleh kesiapan yang telah ada dalam diri anak.
Implikasinya dalam pembelajaran yaitu :
§  Guru hendaknya berinteraksi dengan anak dan mengamati mereka untuk menemukan apa yang dapat mereka ketahui dan apa yang dapat mereka lakukan.
§  Guru merencanakan pembelajaran yang didasarkan pada tingkat pemahaman dan perilaku yang ditunjukkan setiap anak.
§  Perbanyak kesempatan yang dapat dilakukan oleh anak untuk mengeksplorasi dan mempraktekkan apa yang telah mereka pelajari sebelumnya.
§  Guru membantu anak untuk membuat hubungan antara pengalaman baru dengan pengalaman sebelumnya dan mendukung perkembangan menuju konsep atau keterampilan yang lebih kompleks.

5.  Perkembangan mempunyai pengaruh yang bersifat kumulatif
Pengalaman yang dilalui seseorang mempunyai pengaruh positif maupun negatif terhadap perkembangan selanjutnya dan sangat bergantung pada keadaan.
Lilian katz dan Sylvia Chard menggambarkan suatu kasus untuk mempertimbangkan pengaruh negatif jangka panjang dari praktek-praktek  pembelajaran disekolah yang sering memberikan lembar kerja setiap hari kepada anak-anak. Para guru yang tidak memahami akibat-akibat dari penggunaan teknik-teknik sporadis seperti itu mungkin memandang hal itu tidak berbahaya bagi anak. Tetapi jika teknik itu sering digunakan maka akan mengakibatkan anak kurang dapat mengembangkan kemampuan intelektualnya, atau mereka akan mengalami hambatan dalam perkembangan intelektualnya.
Implikasinya dalam pembelajaran adalah :
§  Para guru hendaknya mempertimbangkan pengaruh jangka pendek maupun jangka panjang dari pengalaman anak.
§  Hendaknya dilakukan penelitian jangka panjang (studi longitudinal) tentang cara belajar anak.
§  Praktek pendidikan yang berorientasi perkembangan hendaknya dijelaskan kepada orangtua, teman sejawat dan para pembuat keputusan untuk mendukung perkembangan dan belajar anak.


Referensi :  Yamin, Martinis. 2013. Panduan PAUD Pendidikan Anak Usia Dini. Ciputat : Gaung Persada Press Group