Sabtu, 26 Desember 2015

Perkembangan Pribadi dan Emosi AUD



A.  Pendahuluan
Emosi dan pribadi adalah suatu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan sebab emosi sesorang akan membentuk kepribadian yang merupakan cikal bakal dari jati diri seseorang. Sentuhan awal dari orang-orang disekitar anak memang akan menjadi salah satu penentu anak akan berkembang emosinya dan kepribadiannya dengan baik, sebab anak akan mengingat sepanjang hidupnya apa yang ia rasakan dari awal kehidupannya sampai dia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik yang harus dia lakukan.
Dengan demikian maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa emosi dapat memberikan pengalaman bagi anak. Apa yang dipelajari anak dari orangtua atau pengasuh memberikannya kesempatan untuk belajar berpikir dalam membedakan mana yang baik dan mana yang salah. Dengan begitu perkembangan pribadi anak tidak dapat dipengaruhi oleh hal yang negatif.

B.  Emosi Awal
Setiap diri anak terdapat sembilan kecerdasan yang akan menghantarkan mereka menjadi pribadi yang tangguh yang dapat survive dalam menghadapi tantangan dimasa depan mereka kelak dan hal ini terkait dengan pengelolaan dan perkembangan kepribadian mereka mulai dari mereka lahir dan berhubungan dengan lingkungan sekitar mereka. Kecerdasan yang terkait langsung dengan kepribadian adalah kecerdasan Intrapersonal dan Interpersonal. Kecerdasan intrapersonal berfungi untuk mengelola diri secara pribadi seperti analisa diri, refleksi, menilai keberhasilan orang lain dengan memahami diri.
Kecerdasan interpersonal : kemampuan untuk bekerja secara efektif dengan orang lain, memelihara dan menjaga hubungan dengan orang lain, kemampuan kerja kolaboratif, menyampaikan pandangan melalui komunikasi verbal dan nonverbal.
Piaget mengatakan bahwa perkembangan seorang anak dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu :
1.     Faktor kematangan
2.    Pengaruh yang datang dari pengalaman dan tranmisi sosial
3.    Aktifitas sosial anak yang berguna dalam belajar menyesuaikan diri (adaptasi), assimilasi dan akomodasi. Interaksionisme dimana pengaruh timbal balik serta saling mempengaruhi antara bakat (pembawaan dan konstitusi) dan lingkungan, antara kematangan dan belajar serta interaksi antara pribadi dan dunia luar.
Perkembangan anak selalu dikaitkan dengan faktor heredity dan maturity, faktor manaka yang paling dominan dalam pengaruhnya terhadap perkembangan anak ? keduanya bisa saja menjadi faktor yang dominan dalam perkembangan anak dimasa-masa pertumbuhannya. Perkembangan  di masa-masa emasnya memerlukan perhatian dan dukungan dari orang-orang terdekatnya, khususnya orangtua dan pengasuhnya.
Anak yang tidak bisa diam dan emosinya meledak-ledak bukanlah sesuatu yang perlu dirisaukan, itu adalah merupakan gejala biasa atau kategori normal, namun jika saja sudah masuk ke dalam tahap yang membahayakan, maka barulah orangtua perlu menindak lanjutinya dengan di deteksi sedini mungkin adanya kelainan berkaitan dengan emosinya.
Perkembangan kecerdasan terjadi sangat pesat di awal kehidupan anak (50%) dan sisanya pada rentang usia 4-18 tahun. (Osborn, White, Bloom). Anak akan berkembang dengan potensi yang dimilikinya dalam kodisi apapun yang dimiliki oleh anak tersebut.
Menurut Ainswoth (1973), hubungan emosi adalah beban emosi yang mengikat antara satu orang dengan orang lain. Pada awal masa kanak-kanak, anak memiliki hubungan dengan orangtua atau pengasuh untuk menjaga mereka. Hubungan ini terjalin karena sering bertemu dan berkomunikasi, pemberian kasih sayang dan kebutuhan.
Hubungan yang baik antara anak dengan orangtua ditunjukkan dengan cara pemberian kasih sayang dan kehangatan pada anak. Anak akan percaya bahwa ada ikatan emosi antara ia dengan orangtuanya, mereka pun aka tumbuh dengan baik. Hubungan emosi itu sendiri akan berubah seiring anak tumbuh menjadi dewasa. Pemberian kepercayaan dan kasih sayang yang lebih dibutuhkan anak dibandingkan dengan pemberian kehangatan pelukan. Dengan demikian anak dapat menunjukkan rasa tanggungjawabnya.
            Perkembangan Hubungan Emosi
Pada dasarnya bayi selalu melihat dan mendengarkan semua orang yang berada di sekelilingnya dan mencontoh mereka (Schafer, 1996). Melihat pengalaman anak tersebut, dapat dikatakan juga bahwa bayi belajar tidak bisa menghitung orang yang dicontoh olehnya daris segi sikap atau bahasa, tapi mereka mengenal dengan baik orang yang ada di sekelilingnya.
Hubungan emosi dimulai semenjak anak bayi dan mengalami puncak ketika anak berusia 7 bulan. Kali ini bayi dapat memebedakan siapa yang ibu, ayah, kakak, nenek, dan lainnya. Bayi akan menangis jika ia tidak merasa nyaman dengan orang lain selain yang dekat dengannya. Namun ada juga yang tidak demikian, hal ini tergantung bagaimana orangtua atau oengasuhnya membiasakan anak untuk berhubungan juga dengan lingkungan. Dengan demikian dapat dikatakan jika hubungan emosi juga dibutuhkan ketika anak merasakan bahaya, sakit, dan ketidk pahaman. (Bowlby, 1988).
Anak yang sudah dapat berbicara akan lebih mudah menunjukkan umpan balik ketika ia merasa ada hubungan emosi dibandingkan bayi. Karena orangtua dan pengasuh sudah tau apa yang diinginkan oleh anak. Secara umum anak yang mencintai hubungannya dengan orangtua atau pengasuhnya akan merasa terus dicintai dan dapat bermain sebagaimana mestinya seorang anak. Hal ini berbeda sekali dengan anak yang hidu dijalanan, mereka merasa harus bertanggung jawab akan dirinya sendiri sehingga mereka mencari kerja diusia yang seharusnya bermain dan belajar.
            Perbedaan Individu dalam memberikan Hubungan Emosi pada Bayi
            Jika anda melihat anak-anak disekeliling anda yang anda ketahui, maka anda akan melihat beragam respon mereka tehadap pengasuh. Beberapa dekat dengan pengasuh sampai memeluk dan membutuhkan mareka ketika sedang sedih, namun beberapa memeiliki hubungan buruk dengan pengasuhnya.
            Pada situasi ini Ainsworth fokus pada sikap anak, dengan melihat bagaimana respon anak, apakah menangis atau nyaman dengan orang asing. Menurut R.A. Thompson (1998) dari situasi tersebut anak memberikan empat klarifikasi sebagai berikut :
·         Bayi merasa terdapat hubungan emosi dengan pengasuh untuk menjaganya. Ketika pengasuh tidak ada, maka bayi akan bermain dengan mainan baru dan menggumam terus. Namun ketika pengasuh datang bayi akan tersenyum atau mengajak bicara pengasuh. Sekitar 65% bayi melakukannya.
·         Bayi tidak merasa nyaman dengan situasi ini, mereka lebih senang bermain sendiri dengan mainannya tanpa peduli dengan kehadiran siapapun dan akan merasa terganggu begitu diajak berinteraksi. Sekitar 20% anak melakukan hal ini.
·         Bayi akan merasa terganggu hingga menangis atau mengerang begitu tahu ada orang asing yang mendekatinya. Meskipun sebaik apapun mereka, si bayi akan merasa tidak nyaman. Sekitar 15% anak melakukannya.
·         Bayi memiliki masalah serius dengan kedatangan orang asing, mereka akan sangat ketakutan. Mereka akan menolak jauh-jauh orang yang tidak dikenalnya bahkan tidak membuka diri.

Latar Belakang Budaya
Menurut Morelli (2000) salah satu yang menyebabkan hubungan emosi adalah latar belakang budaya. Budaya menjadikan anak dan orangtua menjadi dekat. Terdapat dampak positif dan negatif dari apa yang dibiasakan atau budaya masing-masing negara. Membiasakan anak berhubungan dengan orang lain baik bagi pertumbuhan interaksi sosialnya dimasa mendatang namun meninggalkan mereka bersama orang asing yang bahkan orangtua pun tidak mengenalnya merupakan kebiasaan buruk, anak akan merasa tidak disayang dan diperhatikan, sehingga hubungan emosi anak dengan ibu menjadi tidak baik.
Kontribusi Anak
Faktor lain yang mempengaruhi hubungan emosi anak adalah kontribusi anak itu sendiri. Anak tahu apa yang dibutuhkannya dari ibu dan pengasuh. Dengan demikian anak akan merasa nyaman jika segala kebutuhannya baik dari ibu atau pengasuh. Menurut Frenkel (1999) anak yang lahir dengan kondisi prematurakan menolak perkembangan hubungan emosi dengan orang lain sehingga mereka senang tumbuh bersama orang terdekat.
Hubungan Ganda Emosi
Hubungan emosi ganda selain hubungan dengan orangtua juga di tunjukkan dengan peran anggota keluarga lainnya seperti kakek, nenek, saudara kandung, dan yang lainnya dengan cara mereka masing-masing. Ketika orangtua berada di rumah bersamaan maka bayi akan memiliki hubungan emosi yang sangat kuat, karena apa yang dibutuhkannya sudah hadir semua.
Terkadang bagi anak, siapa yang sering berada disekitarnya dan memberikan kebutuhannya maka ia akan merasa lebih dekat. Oleh karena itu, akan sangat menyakitkan bagi orangtua jika anak lebih memilih bersama orang lain dibandingkan mereka. Perbuatan orangtua dengan mementingkan karir atau aktifitas lain dibandingkan anak akan mempengaruhi hubungan emosi tersebut.
Perkembangan Hubungan Emosi dari Segi Keamanan
Sesuai dengan teori Doyle, bahwa anak selain butuh kasih sayang juga membutuhkan rasa aman. Rasa aman tersebut dicari oleh anak dari figure ayah dan ibu. Kedekatan hubungan emosi antara anak dan orangtua sangat penting sehingga anak dapat memenuhi kebutuhan rasa amannya. Anak yang tumbuh menjadi penakut karena anak tersebut tidak mendapatkan rasa aman baik dari ayah, ibu atau orang dewasa lainnya.
Pada dasarnya hubungan emosi yang memberikan rasa aman akan berdampak pada jangka panjang. Misalnya dengan kondisi ini anak akan menjadi berani, sehingga mereka tumbuh menjadi individu yang percaya diri dan berani mengambil keputusan. Rasa aman yang telah dibicarakan sebenarnya menjaga anak dari hal-hal yang tidak sepatutnya diperoleh anak. Setidaknya ada dua faktor yang menjadi akar positif dari hubungan emosi dari segi keamanan.
Pertama, orangtua yang sensitif terhadap perkembangan anak, dilain pihak hubungan emosi dari segi keamanan datang dari rasa kasih sayang, solid, dan kompak, hubungan timbal balik, dan hubungan emosi lainnya.
Kedua, anak akan memperoleh rasa aman jika mendapatkan kebutuhan yang dicarinya. Mereka berharap dicintai dan dipercaya serta diberikan kesempatan kedua pada setiap kesalahan yang diperbuat. Anak akan merasa tidak aman dan nyaman jika orang-orang yang seharusnya memberikan hubungan emosi kepadanya malah menolaknya begitu saja. Merasa tertekan dan stres bahka depresi akan timbul pada diri anak.
Implikasi dari Penelitian mengenai Hubungan Emosi
Anak yang diberikan hubungan emosi yang baik akan dengan sendirinya atau secara jaminan akan bahagia dan ketika dewasa menjadi pribadi yang produktif. Berdasarkan sumber yang banyak membahas mengenai hubungan emosi, maka kami merekomendasikan pada orang dewasa yang bekerja di dunia anak atau sebagai orangtua yang memiliki anak untuk :
·         Membangun hubungan yang kuat dengan anak. Hubungan emosi yang kuat akan memberikan banyak dampak positif pada anak. Selain itu, untuk membangun hubungan yang kuat dengan anak tidak hanya di rumah melainkan di sekolah, di tempat bermain, di tempat ibadah, dll.
·         Memberikan pengetahuan mengenai hubungan emosi ganda. Membiasakan anak agar mengenal oranglain yang dapat memberikannya hubungan emosi.
·         Ketika orangtua bercerai, bantu anak untuk mendapatkan hubungan emosi seperti saat semuanya baik-baik saja. Perceraian orangtua seharusnya bukan halangan bagi anak untuk mendapatkan hubungan emosi dari orangtua.
·         Menawarkan hubungan emosi baru bagi anak yang berada di rumah baru dengan keluarga yang baru. Adaptasi merupakan proses yang sulit dan membutuhkan waktu, hal ini terjadi bagi mereka yang dulunya tinggal di panti asuhan atau anak yang memiliki ibu atau ayah tiri.

C.  Pengembangan Perubahan dalam Emosi
Ketika anak tumbuh dewasa mereka akan dapat mengelola emosi dengan baik dan meningkatkan perasaan yang dimilikinya. Pengembangan emosi cenderung dikarakteristikkan sebagai berikut :
·         Bayi mulai hidup dengan emsoi dasar dan tumbuh dengan adanya perasaan baru. Maksudnya keika bayi lahir mereka hanya dapat merasakan sedih dan senang, namun seiring berjalannya waktu, pemberian hubungan emosi mengajarkan mereka untuk memasukkan perasaan baru seperti marah, takut, cemas, dan sebagainya.
·         Bayi dapat merespon emosi orang lain. Kemampuan dasar bayi adalah mereka dapat merespon emosi orang lain dengan memberikan bahasa isyarat baik hanya senyum atau suara tawa atau gumaman.
·         Anak belajar bagaimana mengontrol emosi dan tingkah laku mereka sebagai umpan balik dari perlakuan orang terhadap diri mereka.
·         Anak belajar untuk merefleksi perasaan atau emosi. Anak juga dibiasakan untuk mengevaluasi diri mereka dengan melakukan refleksi. Hal ini memberikan anak pengalaman sehingga dapat terus memperbaiki diri.
·         Anak menyadari betapa pentingnya mengelola emosi seperti marah, takut, cemas, dan lainnya yang negatif. Karena jika tidak dikelola sifat-sifat itu akan membawa dampak buruk baginya.
·         Mencari penyebab dari anak mengeluarkan emosi negatif mereka. Apabila diperoleh alasannya maka kita dapat mencari solusinya.
·         Fokus pada perasaan anak dengan memberikan respon dari setiap emosi anak untuk mengembangkan sifatnya sesuai perkembangan usia anak. 

Faktor-faktor yang membedakan Emosi
Semua anak memiliki kemampuan dalam mengembangkan ekspresi dan kontrol emosi. Dalam pengembangan tersebut dipengaruhi oleh berbagai macam aspek kehidupan diantaranya :
·         Perbedaan jenis kelamin
Pada awalnya ketika masih bayi, anak perempuan dengan laki-laki sama saja dalam menunjukkan ekspresinya namun setelah mereka bertambah usianya, anak laki-laki menunjukkan tempramen marah yang lebh besar dibandingkan anak perempuan. Dan perempuan lebih banyak menunjukkan kesedihan, kecemasan, ketakutan, dan rasa bersalah daripada laki-laki.

·         Perbedaan latar belakang keluarga dan budaya
Perbedaan yang diakibatkan oleh keluarga dan budaya adalah hal yang paling sering dialami. Mereka yang tinggal dengan keluarga yang selalu menjunjung tinggi kejujuran dan nilai-nilai ibadah, maka akan tumbuh dengan tempramen yang jujur dan sabar. Namun jika mereka dibiasakan oleh keluarganya untuk dimanja maka mereka akan tumbuh menjadia anak yang egois dan tidak dapat mandiri. 
·         Perbedaan sosial-emosional
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Taylor (2000) bahwa anak dengan latar belakang ekonomi rendah memiliki tempramen yang lebih buruk dibandingkan mereka yang berlatar belakang ekonomi tinggi. Hal ini disebabkan oleh faktor pendidikan yang diperoleh. Anak yang memiliki latar belakang ekonomi yang tinggi cenderung banyak memperoleh pengetahuan dan disiplin mengenai bagaimana mereka bersikap.

D.  Mengelola Emosi
Bagaimana emosi dapat mempengaruhi kehidupan tergantung pada individu masing-masing dalam mengontrolnya. Maksudnya emosi dapat menjadi baik jika mengontrolnya dengan positif tapi dapat juga sebaliknya. Berikut ini beberapa saran untuk mengelola emosi yang terjadi pada bayi, anak, dan remaja :
·         Membantu bayi yang menangis untuk membuatnya nyaman.
·         Menciptakan stuasi yang hangat, dapat diterima, dan kepercayaan.
·         Mengajak anak untuk mengeluarkan semua yang dirasakannya.
·         Mendiskusikan pengalaman emosi sesuai dengan apa yang pernah dirasakan.
·   Mengajak anak untuk menebak emosi orang lain sebagai suatu rangsangan emosi pada diri anak.
·       Mempelajari perbedaan budaya yang membawa pada perbedaan dalam mengelola emosi anak.
·         Membantu anak dalam menjaga sifat cemasnya.
·         Memberikan perhatian pada emosi diri .
·         Mengajak anak untuk menghindari model yang berhubungan dengan emosi negatif.

Referensi : Yamin, Martinis. 2013. Panduan PAUD Pendidikan Anak Usia Dini. Ciputat: Gaung Persada Press Group


Tidak ada komentar:

Posting Komentar