Konsep DAP atau Developmentally Appropriate Practice dapat kita artikan dengan
pendidikan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. Pada awalnya konsep DAP
ini muncul di Amerika pada tahun 1980-an, sebagai bentuk perbaikan dari
pendidikan pada waktu itu yang dianggap tidak sesuai dengan tahapan perkembangan
anak, terutama untuk anak di bawah 8 tahun. Pada waktu itu kurikulum yang ada
dianggap telah gagal menghasilkan anak yang dapat berpikir kritis dan dapat
menyelesaikan berbagai permasalahan dalam kehidupannya. Oleh karena itu para
ahli yang tergabung dalam organisasi NAEYC (National
Association for The Education of Young Childrend) dipelopori oleh Bredekamp
membuat petisi untuk melakukan reformasi pendidikan melalui konsep DAP
tersebut.
A. Pengertian
DAP
Konsep
DAP atau pendidikan yang sesuai dengan perkembangan anak berpijak pada tiga
dimensi utama, yaitu sebagai berikut (Bredekamp, 1987) :
1.
Sesuai
dengan Usia
Penelitian
tentang perkembangan anak menunjukkan adanya urutan tahapan perkembangan dan
pertumbuhan yang bersifat umum dan dapat diramalkan. Oleh karena itu, pendidik
perlu mengetahui tiap tahapan perkembangan anak ini agar dapat memberikan
kegiatan, materi dan pengalaman belajar yang menarik, aman dan mendidik bagi
anak.
2.
Sesuai
dengan Individu Anak yang Unik
Setiap
anak memiliki keunikan tersendiri, baik dalam pola kepribadian, bakat, minat,
pengalaman, gaya belajar atau latar belakang keluarga. Oleh karena itu,
pendidik perlu memperhatikan keunikan tiap anak tersebut saat berinteraksi
dengan mereka.
3.
Sesuai
menurut lingkungan Sosial Budaya
Latar
belakang sosial budaya anakyang beragam perlu diperhatikan oleh pendidik karena
anak perlu di persiapkan menjadi individu yang dapat menyesuaikan diri dengan
lingkungan kehidupan sosialnya.
Sementara
itu menurut Kostelnik, Soderman, dan Whiren (1993, dalam Arthur et. Al, 1996),
DAP terdiri dari tiga prinsip utama, yaitu sebagai berikut :
1.
Memperhitungkan
bagaimana anak belajar dan berkembang, dan menggunakan pengetahuan tentang proses belajar dan perkembangan anak
tersebut sebagai dasar untuk menentukan materi kurikulum dan strategi
pengembangannya.
2.
Mempertimbangkan
keunikan dari tiap anak dan memperlakukan tiap anak sebagai individu yang
memiliki ciri khas dan perbedaan.
3.
Menunjukkan
kepedulian yang tinggi pada perbedaan kapasitas belajar setiap anak.
B. Landasan
DAP
Munculnya
konsep DAP sangat sesuai dengan berbagai teori maupun hasil riset yang telah
dikembangkan oleh para ahli. Beberapa teori tentang pendidikan anak yang
mendasari konsep DAP, antara lain teori Piaget tentang perkembangan kognitif,
teori Erik Erikson tentang perkembangan emosi, teori Vygotsky tentang
sosio-kultural, teori Gardner tentang kecerdasan majemuk, teori Kohlberg dan
Thomas Lickona tentang perkembangan moral, dan teori Bronfenbrenner tentang
ekologi dan kontekstual.
1.
Teori
Thomas Lickona tentang Perkembangan Moral
Lickona
membagi tahapan perkembangan moral pada manusia menjadi empat tahapan, yaitu
sebagai berikut :
a.
Fase
berpikir egosentris (self-oriented morality), usia 1 sampai 4/5 tahun.
b.
Fase
patuh tanpa syarat (authority-oriented morality), usia 4/5 sampai 6 tahun.
c.
Fase
balas-membalas (exchange stage), usia 6,5 tahun sampai 8 tahun.
d.
Fase
memenuhi harapan lingkungan (peer-oriented morality), usia 8 sampai 13/14
tahun.
Anak pada fase egosentris biasanya
menunjukkan berbagai gejala egosentris seperti sulit berbagi mainan, tidak mau
menunggu antrian, cenderung tidak mau kalah saat berbicara, dan sebagainya.
Menurut Lickona anak pada usia ini juga cenderung susah diatur, senang
melanggar peraturan, suka pamer, memaksakan keinginan, dan memanipulasi atau
berbohong. Meskipun demikian, anak pada fase ini sudah
dapat diperkenalkan sopan santun dan kriteria baik buruk, tentunya dengan penuh
kesabaran dari pendidik.
Salah satu cara yang cukup efektif
meredam egosentris anak adalah dengan menanamkan rasa empati. Hal ini dapat
dilakukan dengan mengajak anak berdialog, dan melalui cerita yang yang
didalamnya ada sisipan perilaku yang diharapkan.
2.
Teori
Bronfenbrenner tentang Ekologi dan Kontekstual
Teori
Bronfenbrenner mengemukakan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh empat hal,
yaitu :
a.
Konteks
Mikrosistem, yang terdiri atas keluarga, sekolah, dan teman-temannya.
b.
Konteks
Mesosistem, yaitu hubungan antara keluarga dengan sekolah, sekolah dengan sekelompok
anak sebaya atau keluarga dengan sekelompok teman sebaya.
c.
Konteks
Ekosistem, yaitu hal-hal yang ada disekitar anak yang dapat mempengaruhi anak
tersebut, misalnya pekerjaan orangtua, kebijakan pemerintah setempat,
perceraian kedua orangtua, pengasuhan oleh kakek/ nenek, dll.
d.
Konteks
Makrosistem, yaitu kondisi global di mana anakk tersebut hidup, barupa
lingkungan sosial, budaya dan agama. Misalnya lingkungan budaya yang penuh
dengan kekerasan, juga akan berpengaruh terhadap kekerasan orangtua terhadap
anak.
Teori Bronfenbrenner ini sangat berguna
untuk mengetahui faktor pelindung atau faktor penghambat dalam lingkungan
sosial yang dapat mempengaruhi perkembangan anak.
Faktor penghambat perkembangan anak
antara lain : kemiskinan, minimnya fasilitas bermain. Kekerasan dilingkungan,
pelecehan terhadap anak, pertengkaran atau perceraian orangtua, dan sebagainya.
Sedangkan faktor pelindung perkembangan anak adalah keharmonisan dalam
keluarga, keterlekatan dengan orangtua, tersedianya fasilitas bermain.
Lingkungan teman sebaya dan sekolah yang baik, dan sebagainya.
Setelah mengetahui faktor-faktor
tersebut, pendidik diharapkan dapat mengambil langkah yang tepat untuk
pencegahan terjadinya masalah anak atau untuk memecahkan masalah dalam
perkembangan anak didiknya.
3.
Hasil
Penelitian tentang Brain-Based learning
Salah
satu hasil riset tentang otak itu dikenal dengan Brain-based learning, yaitu
metode belajar yang sesuai dengan cara kerja otak. Beberapa prinsip brain based
leraning yaitu :
a.
Otak
memproses beberapa aktivitas dalam waktu bersamaan. Misalnya, saat menari
sambil bernyanyi maka tangan, dan kaki dapat digunakan untuk bergerak sesuai
dengan irama, dan mulut untuk bernyanyi.
b.
Otak
memproses informasi secara keseluruhan dan secara bagian per bagian dalam waktu
bersamaan.
c.
Proses
belajar melibatkan seluruh aspek fisiologis manusia, tidak aspek tertentu saja.
d.
Otak
selalu mencari makna atau arti informasi yang diterimanya secara alami,
khususnya informasi yang bermakna atau berkesan.
e.
Faktor
emosi mempengaruhi proses belajar
f.
Motovasi
belajar akan meningkat bila diberikan sesuatu menantang, dan akan terhambat
jika diberikan ancaman.
g.
Sesorang
akan lebih mudah mengerti dengan diberikan fakta secara alami atau melalui
ingatan spasial (keruangan), dari pada sekedar diberikan penjelasan lisan.
Prinsip-prinsip brain-based learning
tersebut mendasari perubahan metode belajar yang sesuai dengan konsep DAP,
yaitu sebagai berikut (Megawangi, et. Al, 2004).
a.
Mencipkatan
lingkungan yang dapat membuat anak asyik belajar, yaitu lingkungan yang sedapat
mungkin melibatkan seluruh aspek perkembangan anak.
b.
Menggunakan
kurikulum yang dapat menumbuhkan minat anak terhadap materi belajar secara
kontekstual sehingga anak tidak hanya menghafal, tetapi benar-benar dapat
memahami makna dari hal-hal yang dipelajarinya.
c.
mengupayakan
suasana belajar yang aman dan menyenangkan, bebas dari tekanan dan ancaman,
namun tetap memberikan tantangan bagi anak untuk terus mengembangkan rasa ingin
tahunya.
d.
Menyampaikan
materi belajar dengan melibatkan pengalaman konkret, terutama malalui pemecahan
masalah yang tingkat kesulitannya disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak.
C. Prinsip-prinsip
Pelaksanaan DAP
1. Perencanaan
Kurikulum
Pada
perencanaan kurikulum sesuai DAP, perlu diperhatikan beberapa hal berikut
(Bredekamp n Coople,1997).
a.
Kurikulum
DAP harus mencakup semua aspek perkembangan anak (fisik, emosi, sosial,
spiritual, dan kognitif) melalui pendekatan yang terpadu.
b.
Perencanaan
kurikulum yang tepat harus didasarkan pada pengamatan pendidik dan catatan yang
lengkap tentang minat dan tingkat perkembangan setiap anak.
c.
Perencanaan
kurikulum harus diarahkan pada pembelajaran sebagai proses yang interaktif.
d.
Kegiatan
dan materi pengembangan sebaiknya konkret, nyata, dan relevan dengan kehidupan
anak.
e.
Program
pengembangan anak usia dini perlu menyediakan layanan dengan cakupan yang lebih
luas dari berbagai tingkat minat dan kemampuan anak pada usia kronologis
tertentu.
f.
Pendidik
perlu mengembangkan berbagai variasi kegiatan dan materi pengembangan, dan
mengupayakan kegiatan dengan tingkat kesulitan, kompleksitas dan tantangan yang
lebih tinggi agar anak terlibat aktif, dan dapat mengembangkan pemahaman dan
keahliannya.
2. Evaluasi
Perkembangan Anak
Evaluasi
perkembangan dan belajar anak secara individu sangat penting bagi perencanaan
dan implementasi DAP. Untuk itu evaluasi harus dilakukan dengan penuh
perhitungan dan kehati-hatian. Evaluasi yang tidak akurat dapat mendiskreditkan
anak. Saat ini instrumen berupa tes yang
reliable dan valid untuk mengukur kemajuan perkembangan anak usia dini masih
sangat jarang. Kelangkaan ini menyebabkan evaluasi untuk anak usia dini berupa
tes tertentu tidak terlalu bermakna. Akan lebih baik jika evaluasi itu
didasarkan dari observasi guru yang diuraikan secara deskriptif, bukan
ditampilkan dalam bentuk angka/ nilai. Beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam mengevaluasi perkembangan anak adalah sebagai berikut (Bredekamp n
Coople, 1997)
a.
Kebijakan
yang berdampak besar pada anak, seperti
penerimaan murid baru, penempatan kelas atau jenjang yang tidak boleh dibuat
berdasarkan satu jenis asesmen saja, misalnya hanya melalui tes.
b.
Asesmen
perkembangan dan hasil observasi anak dapat di gunakan untuk mengidentifikasi
anak yang memiliki kebutuhan khusus dan atau anak dengan resiko tertentu, dan
untuk merencanakan kurikulum yang sesuai bagi mereka.
c.
Prediksi
perkembangan anak yang didasarkan pada pengukuran dan norma yang telah
diberlakukan.
d.
Bagi
tiap anak yagn sudah memenuhi kelayakan usia pada program PAUD (TPA, KB, TK)
tertentu, sebaiknya diatur penempatan anak sesuai dengan tingkat
perkembangannya.
Selain petunujuk praktis pelaksanaan
DAP diatas, ada beberapa kebijakan penting yang perlu diperhatikan untuk
mengambangkan pendidikan yang sesuai bagi anak usia dini, yaitu sebagai berikut
(Bredekamp n Coople, 1997)
a.
Tiap
pendidik AUD sebaiknya memiliki pengetahuan tingkat perguruan tinggi ( Strata 1
) dalam bidang pendidikan anak. Pendidik juga diharapkan selalu mengikuti
perkembangan pengetahuan tentang perkembangan anak dan penerapannya dalam
pendidikan anak usia dini.
b.
Penerapan
program DAP memerlukan persiapan pengetahuan agar pendidik dapat mengembangkan
program pendidikannya dengan pendekatan personal, konkret dan berpengalaman. Pengetahuan
tersebut meliputi dasar-dasar teori, berbagai penelitian tentang pengembangan
anak, berbagai metode yang sesuai untuk AUD, dan pengalaman lapangan.
c.
Pendidik
AUD diharapkan telah memiliki pengalaman praktik mendidik anak usia tersebut.
Bagi calon pendidik yang belum pernah berinteraksi dengan anak usia dini,
sebelum terlibat dalam pengasuhan anak usia dini perlu diberikan pelatihan
khusus yang dilengkapi dengan pengalaman praktis mendidik anak AUD dibawah
pengawasan seorang ahli.
d.
Penerapan
program pendidikan anak usia dini yang sesuai perkembangan perlu membatasi
jumlah anak dalam kelompok dengan menyediakan jumlah pendidik yang memadai agar
terjamin pelaksanaan pendidikan yang sesuai dnegan usia dan individu setiap
anak.
Referensi : Coughlin, Pamela A. 1997. Menciptakan Kelas yang Berpusat pada Anak Versi Bahasa Indonesia. Jakarta: Children Resources International