A.
Pendahuluan
Emosi dan pribadi adalah suatu kesatuan yang tidak
dapat terpisahkan sebab emosi sesorang akan membentuk kepribadian yang
merupakan cikal bakal dari jati diri seseorang. Sentuhan awal dari orang-orang
disekitar anak memang akan menjadi salah satu penentu anak akan berkembang
emosinya dan kepribadiannya dengan baik, sebab anak akan mengingat sepanjang
hidupnya apa yang ia rasakan dari awal kehidupannya sampai dia bisa membedakan
mana yang baik dan mana yang tidak baik yang harus dia lakukan.
Dengan demikian maka dapat kita ambil kesimpulan
bahwa emosi dapat memberikan pengalaman bagi anak. Apa yang dipelajari anak
dari orangtua atau pengasuh memberikannya kesempatan untuk belajar berpikir
dalam membedakan mana yang baik dan mana yang salah. Dengan begitu perkembangan
pribadi anak tidak dapat dipengaruhi oleh hal yang negatif.
B. Emosi Awal
Setiap diri anak terdapat sembilan kecerdasan yang
akan menghantarkan mereka menjadi pribadi yang tangguh yang dapat survive dalam
menghadapi tantangan dimasa depan mereka kelak dan hal ini terkait dengan
pengelolaan dan perkembangan kepribadian mereka mulai dari mereka lahir dan
berhubungan dengan lingkungan sekitar mereka. Kecerdasan yang terkait langsung
dengan kepribadian adalah kecerdasan Intrapersonal dan Interpersonal.
Kecerdasan intrapersonal berfungi untuk mengelola diri secara pribadi seperti
analisa diri, refleksi, menilai keberhasilan orang lain dengan memahami diri.
Kecerdasan interpersonal : kemampuan untuk bekerja
secara efektif dengan orang lain, memelihara dan menjaga hubungan dengan orang
lain, kemampuan kerja kolaboratif, menyampaikan pandangan melalui komunikasi
verbal dan nonverbal.
Piaget mengatakan bahwa perkembangan seorang anak
dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu :
1.
Faktor kematangan
2.
Pengaruh yang datang dari
pengalaman dan tranmisi sosial
3.
Aktifitas sosial anak yang
berguna dalam belajar menyesuaikan diri (adaptasi), assimilasi dan akomodasi.
Interaksionisme dimana pengaruh timbal balik serta saling mempengaruhi antara
bakat (pembawaan dan konstitusi) dan lingkungan, antara kematangan dan belajar
serta interaksi antara pribadi dan dunia luar.
Perkembangan anak selalu dikaitkan dengan
faktor heredity dan maturity, faktor manaka yang paling dominan dalam
pengaruhnya terhadap perkembangan anak ? keduanya bisa saja menjadi faktor yang
dominan dalam perkembangan anak dimasa-masa pertumbuhannya. Perkembangan di masa-masa emasnya memerlukan perhatian dan
dukungan dari orang-orang terdekatnya, khususnya orangtua dan pengasuhnya.
Anak yang tidak bisa diam dan emosinya
meledak-ledak bukanlah sesuatu yang perlu dirisaukan, itu adalah merupakan
gejala biasa atau kategori normal, namun jika saja sudah masuk ke dalam tahap
yang membahayakan, maka barulah orangtua perlu menindak lanjutinya dengan di
deteksi sedini mungkin adanya kelainan berkaitan dengan emosinya.
Perkembangan kecerdasan terjadi sangat pesat
di awal kehidupan anak (50%) dan sisanya pada rentang usia 4-18 tahun. (Osborn,
White, Bloom). Anak akan berkembang dengan potensi yang dimilikinya dalam
kodisi apapun yang dimiliki oleh anak tersebut.
Menurut Ainswoth (1973), hubungan emosi
adalah beban emosi yang mengikat antara satu orang dengan orang lain. Pada awal
masa kanak-kanak, anak memiliki hubungan dengan orangtua atau pengasuh untuk
menjaga mereka. Hubungan ini terjalin karena sering bertemu dan berkomunikasi,
pemberian kasih sayang dan kebutuhan.
Hubungan yang baik antara anak dengan
orangtua ditunjukkan dengan cara pemberian kasih sayang dan kehangatan pada
anak. Anak akan percaya bahwa ada ikatan emosi antara ia dengan orangtuanya,
mereka pun aka tumbuh dengan baik. Hubungan emosi itu sendiri akan berubah
seiring anak tumbuh menjadi dewasa. Pemberian kepercayaan dan kasih sayang yang
lebih dibutuhkan anak dibandingkan dengan pemberian kehangatan pelukan. Dengan
demikian anak dapat menunjukkan rasa tanggungjawabnya.
Perkembangan
Hubungan Emosi
Pada dasarnya bayi selalu melihat dan
mendengarkan semua orang yang berada di sekelilingnya dan mencontoh mereka
(Schafer, 1996). Melihat pengalaman anak tersebut, dapat dikatakan juga bahwa
bayi belajar tidak bisa menghitung orang yang dicontoh olehnya daris segi sikap
atau bahasa, tapi mereka mengenal dengan baik orang yang ada di sekelilingnya.
Hubungan emosi dimulai semenjak anak bayi dan
mengalami puncak ketika anak berusia 7 bulan. Kali ini bayi dapat memebedakan
siapa yang ibu, ayah, kakak, nenek, dan lainnya. Bayi akan menangis jika ia
tidak merasa nyaman dengan orang lain selain yang dekat dengannya. Namun ada
juga yang tidak demikian, hal ini tergantung bagaimana orangtua atau
oengasuhnya membiasakan anak untuk berhubungan juga dengan lingkungan. Dengan
demikian dapat dikatakan jika hubungan emosi juga dibutuhkan ketika anak
merasakan bahaya, sakit, dan ketidk pahaman. (Bowlby, 1988).
Anak yang sudah dapat berbicara akan lebih
mudah menunjukkan umpan balik ketika ia merasa ada hubungan emosi dibandingkan
bayi. Karena orangtua dan pengasuh sudah tau apa yang diinginkan oleh anak.
Secara umum anak yang mencintai hubungannya dengan orangtua atau pengasuhnya
akan merasa terus dicintai dan dapat bermain sebagaimana mestinya seorang anak.
Hal ini berbeda sekali dengan anak yang hidu dijalanan, mereka merasa harus
bertanggung jawab akan dirinya sendiri sehingga mereka mencari kerja diusia
yang seharusnya bermain dan belajar.
Perbedaan
Individu dalam memberikan Hubungan Emosi pada Bayi
Jika anda melihat anak-anak
disekeliling anda yang anda ketahui, maka anda akan melihat beragam respon
mereka tehadap pengasuh. Beberapa dekat dengan pengasuh sampai memeluk dan
membutuhkan mareka ketika sedang sedih, namun beberapa memeiliki hubungan buruk
dengan pengasuhnya.
Pada situasi ini Ainsworth fokus
pada sikap anak, dengan melihat bagaimana respon anak, apakah menangis atau
nyaman dengan orang asing. Menurut R.A. Thompson (1998) dari situasi tersebut
anak memberikan empat klarifikasi sebagai berikut :
·
Bayi merasa terdapat hubungan
emosi dengan pengasuh untuk menjaganya. Ketika pengasuh tidak ada, maka bayi
akan bermain dengan mainan baru dan menggumam terus. Namun ketika pengasuh
datang bayi akan tersenyum atau mengajak bicara pengasuh. Sekitar 65% bayi
melakukannya.
·
Bayi tidak merasa nyaman dengan
situasi ini, mereka lebih senang bermain sendiri dengan mainannya tanpa peduli
dengan kehadiran siapapun dan akan merasa terganggu begitu diajak berinteraksi.
Sekitar 20% anak melakukan hal ini.
·
Bayi akan merasa terganggu hingga
menangis atau mengerang begitu tahu ada orang asing yang mendekatinya. Meskipun
sebaik apapun mereka, si bayi akan merasa tidak nyaman. Sekitar 15% anak
melakukannya.
·
Bayi memiliki masalah serius
dengan kedatangan orang asing, mereka akan sangat ketakutan. Mereka akan
menolak jauh-jauh orang yang tidak dikenalnya bahkan tidak membuka diri.
Latar Belakang Budaya
Menurut Morelli (2000) salah satu yang
menyebabkan hubungan emosi adalah latar belakang budaya. Budaya menjadikan anak
dan orangtua menjadi dekat. Terdapat dampak positif dan negatif dari apa yang
dibiasakan atau budaya masing-masing negara. Membiasakan anak berhubungan
dengan orang lain baik bagi pertumbuhan interaksi sosialnya dimasa mendatang
namun meninggalkan mereka bersama orang asing yang bahkan orangtua pun tidak
mengenalnya merupakan kebiasaan buruk, anak akan merasa tidak disayang dan
diperhatikan, sehingga hubungan emosi anak dengan ibu menjadi tidak baik.
Kontribusi
Anak
Faktor lain yang mempengaruhi hubungan emosi
anak adalah kontribusi anak itu sendiri. Anak tahu apa yang dibutuhkannya dari
ibu dan pengasuh. Dengan demikian anak akan merasa nyaman jika segala
kebutuhannya baik dari ibu atau pengasuh. Menurut Frenkel (1999) anak yang
lahir dengan kondisi prematurakan menolak perkembangan hubungan emosi dengan
orang lain sehingga mereka senang tumbuh bersama orang terdekat.
Hubungan
Ganda Emosi
Hubungan emosi ganda selain hubungan dengan
orangtua juga di tunjukkan dengan peran anggota keluarga lainnya seperti kakek,
nenek, saudara kandung, dan yang lainnya dengan cara mereka masing-masing.
Ketika orangtua berada di rumah bersamaan maka bayi akan memiliki hubungan
emosi yang sangat kuat, karena apa yang dibutuhkannya sudah hadir semua.
Terkadang bagi anak, siapa yang sering berada
disekitarnya dan memberikan kebutuhannya maka ia akan merasa lebih dekat. Oleh
karena itu, akan sangat menyakitkan bagi orangtua jika anak lebih memilih
bersama orang lain dibandingkan mereka. Perbuatan orangtua dengan mementingkan
karir atau aktifitas lain dibandingkan anak akan mempengaruhi hubungan emosi
tersebut.
Perkembangan
Hubungan Emosi dari Segi Keamanan
Sesuai dengan teori Doyle, bahwa anak selain
butuh kasih sayang juga membutuhkan rasa aman. Rasa aman tersebut dicari oleh
anak dari figure ayah dan ibu. Kedekatan hubungan emosi antara anak dan
orangtua sangat penting sehingga anak dapat memenuhi kebutuhan rasa amannya.
Anak yang tumbuh menjadi penakut karena anak tersebut tidak mendapatkan rasa
aman baik dari ayah, ibu atau orang dewasa lainnya.
Pada dasarnya hubungan emosi yang memberikan
rasa aman akan berdampak pada jangka panjang. Misalnya dengan kondisi ini anak
akan menjadi berani, sehingga mereka tumbuh menjadi individu yang percaya diri
dan berani mengambil keputusan. Rasa aman yang telah dibicarakan sebenarnya
menjaga anak dari hal-hal yang tidak sepatutnya diperoleh anak. Setidaknya ada
dua faktor yang menjadi akar positif dari hubungan emosi dari segi keamanan.
Pertama, orangtua yang sensitif terhadap
perkembangan anak, dilain pihak hubungan emosi dari segi keamanan datang dari
rasa kasih sayang, solid, dan kompak, hubungan timbal balik, dan hubungan emosi
lainnya.
Kedua, anak akan memperoleh rasa aman jika
mendapatkan kebutuhan yang dicarinya. Mereka berharap dicintai dan dipercaya
serta diberikan kesempatan kedua pada setiap kesalahan yang diperbuat. Anak
akan merasa tidak aman dan nyaman jika orang-orang yang seharusnya memberikan
hubungan emosi kepadanya malah menolaknya begitu saja. Merasa tertekan dan
stres bahka depresi akan timbul pada diri anak.
Implikasi
dari Penelitian mengenai Hubungan Emosi
Anak yang diberikan hubungan emosi yang baik
akan dengan sendirinya atau secara jaminan akan bahagia dan ketika dewasa
menjadi pribadi yang produktif. Berdasarkan sumber yang banyak membahas
mengenai hubungan emosi, maka kami merekomendasikan pada orang dewasa yang
bekerja di dunia anak atau sebagai orangtua yang memiliki anak untuk :
·
Membangun hubungan yang kuat
dengan anak. Hubungan emosi yang kuat akan memberikan banyak dampak positif
pada anak. Selain itu, untuk membangun hubungan yang kuat dengan anak tidak
hanya di rumah melainkan di sekolah, di tempat bermain, di tempat ibadah, dll.
·
Memberikan pengetahuan mengenai
hubungan emosi ganda. Membiasakan anak agar mengenal oranglain yang dapat
memberikannya hubungan emosi.
·
Ketika orangtua bercerai, bantu
anak untuk mendapatkan hubungan emosi seperti saat semuanya baik-baik saja.
Perceraian orangtua seharusnya bukan halangan bagi anak untuk mendapatkan
hubungan emosi dari orangtua.
·
Menawarkan hubungan emosi baru
bagi anak yang berada di rumah baru dengan keluarga yang baru. Adaptasi
merupakan proses yang sulit dan membutuhkan waktu, hal ini terjadi bagi mereka
yang dulunya tinggal di panti asuhan atau anak yang memiliki ibu atau ayah
tiri.
C. Pengembangan Perubahan dalam
Emosi
Ketika anak tumbuh dewasa mereka akan dapat
mengelola emosi dengan baik dan meningkatkan perasaan yang dimilikinya.
Pengembangan emosi cenderung dikarakteristikkan sebagai berikut :
·
Bayi mulai hidup dengan emsoi
dasar dan tumbuh dengan adanya perasaan baru. Maksudnya keika bayi lahir mereka
hanya dapat merasakan sedih dan senang, namun seiring berjalannya waktu,
pemberian hubungan emosi mengajarkan mereka untuk memasukkan perasaan baru
seperti marah, takut, cemas, dan sebagainya.
·
Bayi dapat merespon emosi orang
lain. Kemampuan dasar bayi adalah mereka dapat merespon emosi orang lain dengan
memberikan bahasa isyarat baik hanya senyum atau suara tawa atau gumaman.
·
Anak belajar bagaimana mengontrol
emosi dan tingkah laku mereka sebagai umpan balik dari perlakuan orang terhadap
diri mereka.
·
Anak belajar untuk merefleksi
perasaan atau emosi. Anak juga dibiasakan untuk mengevaluasi diri mereka dengan
melakukan refleksi. Hal ini memberikan anak pengalaman sehingga dapat terus
memperbaiki diri.
·
Anak menyadari betapa pentingnya
mengelola emosi seperti marah, takut, cemas, dan lainnya yang negatif. Karena
jika tidak dikelola sifat-sifat itu akan membawa dampak buruk baginya.
·
Mencari penyebab dari anak
mengeluarkan emosi negatif mereka. Apabila diperoleh alasannya maka kita dapat
mencari solusinya.
·
Fokus pada perasaan anak dengan
memberikan respon dari setiap emosi anak untuk mengembangkan sifatnya sesuai
perkembangan usia anak.
Faktor-faktor yang
membedakan Emosi
Semua anak memiliki kemampuan dalam
mengembangkan ekspresi dan kontrol emosi. Dalam pengembangan tersebut dipengaruhi
oleh berbagai macam aspek kehidupan diantaranya :
·
Perbedaan jenis kelamin
Pada awalnya ketika masih bayi,
anak perempuan dengan laki-laki sama saja dalam menunjukkan ekspresinya namun
setelah mereka bertambah usianya, anak laki-laki menunjukkan tempramen marah
yang lebh besar dibandingkan anak perempuan. Dan perempuan lebih banyak
menunjukkan kesedihan, kecemasan, ketakutan, dan rasa bersalah daripada
laki-laki.
·
Perbedaan latar belakang keluarga
dan budaya
Perbedaan yang diakibatkan oleh
keluarga dan budaya adalah hal yang paling sering dialami. Mereka yang tinggal
dengan keluarga yang selalu menjunjung tinggi kejujuran dan nilai-nilai ibadah,
maka akan tumbuh dengan tempramen yang jujur dan sabar. Namun jika mereka
dibiasakan oleh keluarganya untuk dimanja maka mereka akan tumbuh menjadia anak
yang egois dan tidak dapat mandiri.
·
Perbedaan sosial-emosional
Menurut penelitian yang dilakukan
oleh Taylor (2000) bahwa anak dengan latar belakang ekonomi rendah memiliki
tempramen yang lebih buruk dibandingkan mereka yang berlatar belakang ekonomi
tinggi. Hal ini disebabkan oleh faktor pendidikan yang diperoleh. Anak yang
memiliki latar belakang ekonomi yang tinggi cenderung banyak memperoleh
pengetahuan dan disiplin mengenai bagaimana mereka bersikap.
D. Mengelola Emosi
Bagaimana
emosi dapat mempengaruhi kehidupan tergantung pada individu masing-masing dalam
mengontrolnya. Maksudnya emosi dapat menjadi baik jika mengontrolnya dengan
positif tapi dapat juga sebaliknya. Berikut ini beberapa saran untuk mengelola
emosi yang terjadi pada bayi, anak, dan remaja :
·
Membantu bayi yang menangis untuk
membuatnya nyaman.
·
Menciptakan stuasi yang hangat,
dapat diterima, dan kepercayaan.
·
Mengajak anak untuk mengeluarkan
semua yang dirasakannya.
·
Mendiskusikan pengalaman emosi
sesuai dengan apa yang pernah dirasakan.
· Mengajak anak untuk menebak emosi
orang lain sebagai suatu rangsangan emosi pada diri anak.
· Mempelajari perbedaan budaya yang
membawa pada perbedaan dalam mengelola emosi anak.
· Membantu anak dalam menjaga sifat
cemasnya.
·
Memberikan perhatian pada emosi
diri .
·
Mengajak anak untuk menghindari
model yang berhubungan dengan emosi negatif.